Senin, 05 Oktober 2009
Sabtu, 05 September 2009
JADILAH PENGANTIN BARU SEUMUR HIDUP
JADILAH PENGANTIN BARU SEUMUR HIDUP
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campuri...lah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu". (QS. Al-Baqoroh [2]:187)
Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya' atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya'. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah -ta'ala- menurunkan ayat tersebut.
Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah -ta'ala- menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.
Penutup Aib dan Perhiasan
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)
Sumber Ketentraman dan Kesenangan
Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)
Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Di dalam kedua ayat tersebut, Allah -ta'ala- berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.
10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan
1. Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.
2. Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.
3. Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.
4. Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya
5. Biasakan mengucapkan "4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong" kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.
6. Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.
7. Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.
8. Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti "Aku cinta/sayang kamu", dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.
9. Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.
10. Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.
Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah -ta'ala-. Untuk itu jadilah "Pengantin Baru" selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah -ta'ala-. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa "biasa" dan tidak "luar biasa" terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.
Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.
Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin.
Wallahu a’lam bishshowab.
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campuri...lah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu". (QS. Al-Baqoroh [2]:187)
Ayat tersebut di atas adalah ayat populer yang sering dibaca, dikutip dan dikaji ketika akan datang dan selama bulan Ramadhan. Ayat tersebut menerangkan tentang beberapa aturan ketika berada di bulan Ramadhan. Salah satu aturan tersebut adalah dihalalkannya seorang suami melakukan hubungan badan dengan istrinya kapanpun di sepanjang malam hingga terbit fajar. Sebelum ayat ini turun, batas akhir boleh menggauli istri adalah masuk waktu Isya' atau saat tidur sebelum masuk waktu Isya'. Tentu ini sangat berat bagi para sahabat Rasulullah, dan tentu juga bagi siapa saja. Oleh karena itu Allah -ta'ala- menurunkan ayat tersebut.
Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah -ta'ala- menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.
Penutup Aib dan Perhiasan
Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26). Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3]:14)
Sumber Ketentraman dan Kesenangan
Suami adalah sumber ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.
Allah berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS.Ar-Ruum [30]:21)
Suami adalah sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.
Allah berfirman yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran[3]:14)
Allah berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqaan [25]:74)
Di dalam kedua ayat tersebut, Allah -ta'ala- berfirman dengan menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: pria-pria ….”
“Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami suami-suami kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…”
Suami merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari. Pada saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat hal yang sama kepada suaminya.
10 Tips Sukses Menjadi Libas bagi Pasangan
1. Selalu mendengar dengan segenap dan setulus hati setiap kata yang diekspresikan oleh pasangan.
2. Selalu ramah, mesra, bermuka manis dan tersenyum di hadapan pasangan.
3. Berdandan, berpenampilan rapi dan berbau harum untuk pasangannya baik ketika berada di dalam maupun di luar rumah. Bukan istri saja yang wajib melakukan ini, namun suami juga harus mewajibkan dirinya.
4. Menenangkan hati pasangan ketika dia merasa emosional dan ketika menghadapi ketegangan, kecemasan dan ketakutan; dan menghibur hati pasangan ketika dia kecewa, bersedih hati, sakit hati dan sakit fisiknya
5. Biasakan mengucapkan "4 Kata Ajaib: Terima kasih, Maaf, Permisi dan Tolong" kepada pasangan pada setiap saat dan kesempatan di mana kata-kata tersebut patut dan perlu untuk diucapkan.
6. Melayani keperluan pasangan dengan senang dan ringan hati, ringan tangan, ringan kaki dan segera. Segera kerjakan jika dalam keadaan-keadaan yang memungkinkan. Malas dan ogah-ogahan bukan termasuk di dalamnya. Bukan istri saja yang harus melayani suami. Suami juga harus melayani istri meskipun istri tidak dalam keadaan darurat seperti sakit, mengandung dan melahirkan.
7. Tanyakan kabar dan perasaan pasangan meskipun tidak sedang berjauhan.
8. Ungkapkan rasa cinta dan kasih sayang anda kepada pasangan dengan sikap dan perilaku seperti bergandengan tangan ketika berjalan kaki bersama dan menciumnya meskipun ketika tidak ada dorongan nafsu, dengan kata-kata seperti "Aku cinta/sayang kamu", dan dengan memanggilnya dengan nama panggilan yang indah serta dengan cara yang lemah lembut dan mesra.
9. Memuaskan pasangan dalam berhubungan badan dengan melakukan segala hal yang diperlukannya sesuai dengan tuntunan Islam.
10. Tidak menceritakan hubungan badan mereka kepada orang lain. Tidak menceritakan aib yang dimiliki pasangan berupa kekurangan, kelemahan, kesalahan dan hal-hal negatif lainnya kepada orang lain (kecuali kepada hakim ketika bersaksi di pengadilan, kepada dokter untuk tujuan pengobatan dan kepada kyai, ustadz, psikiater atau konsultan untuk tujuan konsultasi). Juga tidak mencari-cari, mengingat-ingat, serta mengungkit-ungkit atau menyebut aib yang dimiliki pasangan kepada pasangan.
Jadilah Libas bagi pasangan (baca: suami atau istri) anda sesuai dengan tuntunan Allah -ta'ala-. Untuk itu jadilah "Pengantin Baru" selama hayat masih dikandung badan karena mengharap dan demi menggapai ridho Allah -ta'ala-. Lakukan tips di atas terus menerus meskipun sudah bukan pengantin baru lagi di mana pada saat-saat itu dalam hati sudah timbul rasa "biasa" dan tidak "luar biasa" terhadap pasangan dan kehidupan rumah tangga.
Masa-masa ketika sudah tidak lagi menjadi pengantin baru adalah masa-masa ujian. Ini yang (memang) sulit dan berat. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan perjuangan yang berat untuk selalu menjadi “Pengantin Baru”. Sangat wajar dan alami jika ketika awal-awal mencoba melakukan tips di atas terasa aneh, merasa canggung dan malu. Namun jika dibiasakan, lama-lama akan menjadi bisa, menjadi biasa dan menjadi kebiasaan. Lain halnya ketika masih menjadi pengantin baru terutama ketika masa bulan madu, tanpa diajari dan disuruhpun, hal tersebut bisa, mudah, ringan dan otomatis dilakukan.
Wahai para suami! Wahai para istri! Sudahkah hari ini anda menjadi Libas bagi pasangan anda? Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan untuk menjadi Libas bagi belahan jiwa anda hingga nafas terakhir? Wahai para calon pengantin! Sudahkah hari ini anda berniat dan berkeinginan kelak akan menjadi Libas bagi pendamping hidup anda sejak malam pertama hingga malam terakhir (ketika maut menjemput)? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pengantin lama, pengantin baru dan calon pengantin demi meraih kehidupan rumah tangga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Amin.
Wallahu a’lam bishshowab.
Jumat, 05 Juni 2009
CURANG
CURANG
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang agung. hari ketika manus...ia berdiri menghadap Tuhan alam semesta?”.
Timbangan dan takaran adalah jenis pengukuran barang yang paling umum dalam perdagangan dan jual beli. Bahkan beberapa barang yang biasanya dimeter atau dihitung satuannya juga diperjual belikan dgn timbangan atau takaran contohnya kain kiloan telor kiloan ayam kiloan dan lain sebagainya.
Namun dalam kenyataan tidak semua pedagang berlaku jujur dalam menimbang atau menakar atau ukuran yang lainnya. Mereka merasa telah mendapat keuntungan dgn mengurangi timbangan takaran atau bilangan dan yang lainnya. Dalam hal ini yg dirugikan secara lahirnya adalah pembeli. Dan tak sedikit perselisihan yg terjadi gara-gara kurangnya timbangan dari semestinya.
Kalau kita cermati di pasar-pasar tradisional maupun modern hal ini bisa terjadi. Namun potensi terjadinya jauh lebh besar di pasar tradisional. Bahkan ada sebagian dari pedagang itu yang mempunyai dua jenis anak timbangan. Yang satu murni beratnya dan yang lain kurang dari berat semestinya.
Namun begitu mereka yang menjadi pembeli mereka ingin diberi timbangan atau takaran yang benar-benar pas bahkan tak segan mereka memintanya. Inilah salah satu bukti relevansi Al Quran dengan segala zaman. Kecurangan ini telah terjadi sejak umat terdahulu seperti kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang dikisahkan dalam Alquran. Bukan hanya mereka tetapi tiap generasi kehidupan anak Adam selalu ada orang-orang yang berbuat kecurangan seperti ini sampai pada zaman kita yang kita sebut modern ini bahkan mungkin pelakunya lebih banyak. Bayangan keuntungan yang digambarkan oleh setan dalam angan-angan pelakunya sangat menggoda dan menggiurkan.
Penyebab terjadinya kecurangan ini ada bermacam-macam. Di antaranya adalah sifat tamak akan kekayaan duniawi. Ketamakan akan menjerumuskan orang yang memilikinya untuk mendapatkan apa yang diingininya dengan segala cara tanpa pandang halal atau haramnya. Dan salah satu jalan haram itu adalah kecurangan dalam timbangan dan takaran. Peyebab lainnya adalah lunturnya sifat jujur dalam diri pelakunya. Kejujuran seakan-akan hanya bisa didapatkan dalam cerita-cerita khayalan dalam film-film sinetron novel-novel tetapi tidak dalam kehidupan nyata.
Padahal kebutuhan manusia akan kejujuran dalam kehidupan nyata adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Jika kejujuran telah lenyap maka kehancuran tatanan hidup manusia akan hancur secara perlahan maupun cepat. Tentunya semua itu timbul dari lemahnya iman seseorang. Terutama imannya akan adanya hari kiamat yang merupakan hari perhitungan amal baik dan buruk seseorang. Hari yang merupakan saat ditegakkannya keadilan yang sesungguhnya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Pada saat itu tidak ada satu pun yg tersembunyi dari-Nya. Kebaikan sekecil apa pun akan dibalas-Nya begitu juga keburukan sekecil apa pu akan diberi-Nya ganjarannya. Tak seorang pun dapat menghindari hisab pada hari kiamat. Percaya tidak percaya ia pasti akan menghadapinya. Pelaku kejahatan di dunia ini biasanya memang tidak takut akan hisab pada hari kiamat nanti. Mereka semakin asyik dalam dosa mereka seakan-akan tidak ada pertanggungjawaban perbuatan mereka nantinya. Mereka merasa bangga dapat menghindar dari hukum manusia yang lemah. Mereka merasa bahwa dgn terlepasnya mereka dari hukum manusia mereka telah benar-benar bebas dari tanggung jawab terhadap perbuatan mereka. Celakalah orang yang beranggapan demikian. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan dosa dan maksiat dan melindungi kita dari azab neraka yang sangat pedih.
Wallahu al Musta’aan.
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang agung. hari ketika manus...ia berdiri menghadap Tuhan alam semesta?”.
Timbangan dan takaran adalah jenis pengukuran barang yang paling umum dalam perdagangan dan jual beli. Bahkan beberapa barang yang biasanya dimeter atau dihitung satuannya juga diperjual belikan dgn timbangan atau takaran contohnya kain kiloan telor kiloan ayam kiloan dan lain sebagainya.
Namun dalam kenyataan tidak semua pedagang berlaku jujur dalam menimbang atau menakar atau ukuran yang lainnya. Mereka merasa telah mendapat keuntungan dgn mengurangi timbangan takaran atau bilangan dan yang lainnya. Dalam hal ini yg dirugikan secara lahirnya adalah pembeli. Dan tak sedikit perselisihan yg terjadi gara-gara kurangnya timbangan dari semestinya.
Kalau kita cermati di pasar-pasar tradisional maupun modern hal ini bisa terjadi. Namun potensi terjadinya jauh lebh besar di pasar tradisional. Bahkan ada sebagian dari pedagang itu yang mempunyai dua jenis anak timbangan. Yang satu murni beratnya dan yang lain kurang dari berat semestinya.
Namun begitu mereka yang menjadi pembeli mereka ingin diberi timbangan atau takaran yang benar-benar pas bahkan tak segan mereka memintanya. Inilah salah satu bukti relevansi Al Quran dengan segala zaman. Kecurangan ini telah terjadi sejak umat terdahulu seperti kaum Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang dikisahkan dalam Alquran. Bukan hanya mereka tetapi tiap generasi kehidupan anak Adam selalu ada orang-orang yang berbuat kecurangan seperti ini sampai pada zaman kita yang kita sebut modern ini bahkan mungkin pelakunya lebih banyak. Bayangan keuntungan yang digambarkan oleh setan dalam angan-angan pelakunya sangat menggoda dan menggiurkan.
Penyebab terjadinya kecurangan ini ada bermacam-macam. Di antaranya adalah sifat tamak akan kekayaan duniawi. Ketamakan akan menjerumuskan orang yang memilikinya untuk mendapatkan apa yang diingininya dengan segala cara tanpa pandang halal atau haramnya. Dan salah satu jalan haram itu adalah kecurangan dalam timbangan dan takaran. Peyebab lainnya adalah lunturnya sifat jujur dalam diri pelakunya. Kejujuran seakan-akan hanya bisa didapatkan dalam cerita-cerita khayalan dalam film-film sinetron novel-novel tetapi tidak dalam kehidupan nyata.
Padahal kebutuhan manusia akan kejujuran dalam kehidupan nyata adalah suatu hal yang tak terbantahkan. Jika kejujuran telah lenyap maka kehancuran tatanan hidup manusia akan hancur secara perlahan maupun cepat. Tentunya semua itu timbul dari lemahnya iman seseorang. Terutama imannya akan adanya hari kiamat yang merupakan hari perhitungan amal baik dan buruk seseorang. Hari yang merupakan saat ditegakkannya keadilan yang sesungguhnya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.
Pada saat itu tidak ada satu pun yg tersembunyi dari-Nya. Kebaikan sekecil apa pun akan dibalas-Nya begitu juga keburukan sekecil apa pu akan diberi-Nya ganjarannya. Tak seorang pun dapat menghindari hisab pada hari kiamat. Percaya tidak percaya ia pasti akan menghadapinya. Pelaku kejahatan di dunia ini biasanya memang tidak takut akan hisab pada hari kiamat nanti. Mereka semakin asyik dalam dosa mereka seakan-akan tidak ada pertanggungjawaban perbuatan mereka nantinya. Mereka merasa bangga dapat menghindar dari hukum manusia yang lemah. Mereka merasa bahwa dgn terlepasnya mereka dari hukum manusia mereka telah benar-benar bebas dari tanggung jawab terhadap perbuatan mereka. Celakalah orang yang beranggapan demikian. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari perbuatan dosa dan maksiat dan melindungi kita dari azab neraka yang sangat pedih.
Wallahu al Musta’aan.
Selasa, 05 Mei 2009
Berfikit positif POSITIVE THINKING
POSITIVE THINKING
Assalamualaikum Warahmatullah, Saudaraku
Islam menganjurkan kepada umat manusia agar dapat bisa menikmati hidup ini dengan tentram, tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan berseri-seri. Seperti itulah gambaran ideal orang yang bertaqwa..., merasa selalu dekat dengan Allah dimanapun mereka berada. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Allah berfirman: “Kami tidak mengutusmu Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta” (QS Al-Anbiya 21:107)
Untuk mewujudkan hidup yang selalu tersenyum, ringan dan tanpa beban tersebut, maka Islam memberikan beberapa tuntunan, diantaranya yang utama adalah : Selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan) kepada siapapun, menjaga keseimbangan, juga dengan berpikir positif.
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan (berbaik sangka) dan berpikir positif? Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.
1. Pertama,
Kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang lain yang sering kita temui (dalam keluarga, kantor maupun dilingkungan masyarakat) seringkali tidak seburuk yang kita sangka.
Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut. Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.
“Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar”, tambah Nabi Khidhir lagi.
Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!! Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan yang bukan-bukan. (Al-Kahfi [18]: ayat 60-82).
Dalam kisah Qur’ani ini, poin penting yang dapat dipetik:
kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain, siapapun mereka. Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.
2. Kedua,
Berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan.
Kita dapat kisah teladan Rasulullah SAW, ketika seluruh kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melempari wajah beliau dengan pasir,datanglah malaikat menemui Rasul:
“Wahai Muhammad, dengan perlakuan mereka ini sudah sepantasnya jika kamu berdo’a kepada Allah agar membinasakan mereka seperti do’a Nuh –`Alaihi As-Salam—atas kaumnya.”
Rasulullah segera mengangkat tangan beliau. Tetapi yang terucap dalam do’a beliau bukanlah do’a kutukan, melainkan permintaan maaf kepada Allah:
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka melakukan semua ini terhadapku hanya karena mereka tidaktahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.”
Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an,
“Tanggapilah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.” (QS Al-Fushilat 41:34)
3. Ketiga,
Berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian.
Hati yang tenteram adalah hati yang tidakmemendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain. Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah SAW yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan Aisyah,
“Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal.”
Subhanallah!!
Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi:
“Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah SWT.”
4. Keempat,
Berpikir positif bisa membuat hidup kita penuh dengan ridha, legowo, rela atas setiap kejadian, menerima apa adanya, karena Allah SWT seringkali menyiapkan rencana- rencana yang mengejutkan bagi setiap hamba-Nya.
Dikisahkan ada seorang remaja penjual tempe, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat subuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulannya patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum untung, bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah.
Remaja itupun sudah membayangkan betapa marahnya kedua orang tuanya mengetahui semua tempe yang mau dijual kepasar tidak membawa hasil, ternyata dugaan remaja tersebut benar, sang Ibupun otomatis marah-marah luar biasa. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tempe itu baru saja terkena musibah kecelakaan, sehingga seluruh penumpangnya terluka, bahkan dua diantaranya ada yang luka berat, dan harus opname di Rumah Sakit, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat adalah remaja yang pikulannya patah disawah tadi.
Subhanallah, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap musibah besar, dua jam kemudian patah pikulan adalah suatu rahmat Allah & keberuntungan luar biasa.
Wallahu'alam bishowab
Assalamualaikum Warahmatullah, Saudaraku
Islam menganjurkan kepada umat manusia agar dapat bisa menikmati hidup ini dengan tentram, tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan berseri-seri. Seperti itulah gambaran ideal orang yang bertaqwa..., merasa selalu dekat dengan Allah dimanapun mereka berada. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Allah berfirman: “Kami tidak mengutusmu Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta” (QS Al-Anbiya 21:107)
Untuk mewujudkan hidup yang selalu tersenyum, ringan dan tanpa beban tersebut, maka Islam memberikan beberapa tuntunan, diantaranya yang utama adalah : Selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan) kepada siapapun, menjaga keseimbangan, juga dengan berpikir positif.
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan (berbaik sangka) dan berpikir positif? Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.
1. Pertama,
Kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang lain yang sering kita temui (dalam keluarga, kantor maupun dilingkungan masyarakat) seringkali tidak seburuk yang kita sangka.
Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut. Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.
“Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar”, tambah Nabi Khidhir lagi.
Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!! Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan yang bukan-bukan. (Al-Kahfi [18]: ayat 60-82).
Dalam kisah Qur’ani ini, poin penting yang dapat dipetik:
kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain, siapapun mereka. Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.
2. Kedua,
Berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan.
Kita dapat kisah teladan Rasulullah SAW, ketika seluruh kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melempari wajah beliau dengan pasir,datanglah malaikat menemui Rasul:
“Wahai Muhammad, dengan perlakuan mereka ini sudah sepantasnya jika kamu berdo’a kepada Allah agar membinasakan mereka seperti do’a Nuh –`Alaihi As-Salam—atas kaumnya.”
Rasulullah segera mengangkat tangan beliau. Tetapi yang terucap dalam do’a beliau bukanlah do’a kutukan, melainkan permintaan maaf kepada Allah:
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka melakukan semua ini terhadapku hanya karena mereka tidaktahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.”
Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an,
“Tanggapilah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.” (QS Al-Fushilat 41:34)
3. Ketiga,
Berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian.
Hati yang tenteram adalah hati yang tidakmemendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain. Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah SAW yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan Aisyah,
“Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal.”
Subhanallah!!
Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi:
“Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah SWT.”
4. Keempat,
Berpikir positif bisa membuat hidup kita penuh dengan ridha, legowo, rela atas setiap kejadian, menerima apa adanya, karena Allah SWT seringkali menyiapkan rencana- rencana yang mengejutkan bagi setiap hamba-Nya.
Dikisahkan ada seorang remaja penjual tempe, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat subuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulannya patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum untung, bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah.
Remaja itupun sudah membayangkan betapa marahnya kedua orang tuanya mengetahui semua tempe yang mau dijual kepasar tidak membawa hasil, ternyata dugaan remaja tersebut benar, sang Ibupun otomatis marah-marah luar biasa. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tempe itu baru saja terkena musibah kecelakaan, sehingga seluruh penumpangnya terluka, bahkan dua diantaranya ada yang luka berat, dan harus opname di Rumah Sakit, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat adalah remaja yang pikulannya patah disawah tadi.
Subhanallah, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap musibah besar, dua jam kemudian patah pikulan adalah suatu rahmat Allah & keberuntungan luar biasa.
Wallahu'alam bishowab
Langganan:
Postingan (Atom)
