Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Hidup dengan Perasaan yang nyata,


Hidup dengan Perasaan yang nyata,
Ia adalah Hati yang tak pernah membenci,
Hati yang takkan berhenti,
Hati yang selalu haus,
Hati yang rela kehilangan,dan…Hati yang berani menatap Kenyataan
...Maafkan aku Yaa Rabbana atas kebutaanku,
Jangan biarkan pahitnya Kehilangan
membuat Pelangi di Hatiku menghitam,terkunci…

BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
[Menjawab pertanyaan ukhti AR somewhere]


Ukhti AR,
...
Bentuk-Bentuk Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Adalah :

Pertama.

Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.
Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i] Dalam riwayat lain dikatakan : “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Kedua.

Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’ apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ‘udzubillah.
Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta (misalnya biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.

Ketiga.

Tawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.

Keempat.

Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 215.
“Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui”
Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama adalah kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut.
“Artinya : Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat” [HR Bukhari]

Sebagian orang yang telah menikah tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, hal ini tidak dibenarkan. Yang mengatur harta adalah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki adalah berbakti kepada ibunya (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawanya ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istrinya dapat berinfaq dan berbuat baik lainnya kepada kedua orang tuanya.

Kelima.

Mendo’akan orang tua. Sebagaimana dalam ayat “Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil).

Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada keduanya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdo’a di malam hari, ketika sedang shaum, di hari Jum’at dan di tempat-tempat dikabulkannya do’a agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu'Alam Bishowab

Tanda Allah mencintai seseorang,

Tanda Allah mencintai seseorang, apabila dia menjadi begitu ber-sungguh2 dgn ibadah.Adakala sebagian kita berusaha sekuatnya utk beribadah bahkan melebihi kemampuan diri sebagai insan lemah.Namun ibadahnya se-olah2 kosong tanpa rasa,tawar,semangat imannya turun naik,akhirnya tenggelam dlm arus dunia.

'Ketika beribadah semestinya seseo...rang mampu menghadirkan keyakinan bahwa saat itu Allah mencintai dirinya..'

Jumat, 04 Maret 2011

MEMAAFKAN….

MEMAAFKAN….
[Jawaban dari pertanyaan Saudaraku SL]


Saudaraku,
...
Ada kalimat yang menasehati saya, "It's all how you perceive things." Maksudnya, "semuanya tergantung bagaimana kita melihat sesuatu hal." Yang dimaksud kalimat ini adalah, dugaan dan ujian itu tidak ada yang besar atau kecil, Tidak ada yang susah atau senang. Tidak ada yang mampu atau tidak mampu kita tempuhi. Semuanya sama saja. Semuanya datang dari Allah yang Maha Mengetahui. Semuanya bisa kita tempuhi. Sebagaimana firman Allah "- Kami tidak membebani seseorang dengan kewajiban kecuali dengan kesanggupannya .." (QS Al-Anaam 152). Yang membedakannya adalah, bagaimana kita menerimanya. Apakah kita menerima dan menghadapinya dengan penuh ikhlas dan ridho atau sebaliknya?

Maka pengorbanan itu juga sama saja. Bagi yang "Lillahita'ala", tidak ada yang besar atau kecil.Semuanya untuk Allah. Semuanya sama. Semuanya disanggupi. Semuanya akan diredah. Biar berpisah nyawa dari badan, asalkan terlaksana.
Antara pengorbanan yang selalu kita harus tempuhi, yang selalu datang meminta, yang akan menjadi jalan keluar untuk berbagai permasalahan - yang kita sendiri mencari, yang akan dapat menenangkan hati kita adalah ‘memaafkan’.

Bagi orang yang egoistis, me-maaf-kan itu seperti satu kehinaan. "Ah, buat apa aku memaafkan dia?"."Biar sama dengan muka dia!". "Baru puas hati aku lihat dia merana!" Seolah-olah ia tidak pernah berbuat salah. Atau seolah-olah ia bisa berbuat salah, orang lain tidak dapat.

Bagi orang yang kehilangan, me-maaf-kan itu seperti suatu yang terhapus yang sulit untuk diwujudkan kembali yang menurut rasanya tidak akan dapat diwujudkan kembali. Sebagaimana terhapusnya kehilangannya itu.

Kebanyakan manusia, bila dirinya teraniaya, me-maafkan itu seperti merasa dirinya bagai tercampak jauh ke dasar laut. Bila dirinya teraniaya, dia akan merasa karena orang lain yang menganiayanya…’itu bukan salahku!”

Allah sudah nyatakan :

"Dan Allah tidak berkehendak kezaliman pada sekalian makhlukNya." (QS Al-Imran - 108).

"Dan (ingatlah), sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaNya." (QS Al-Imran - 182)

Allah juga mengingatkan akan kata-kata penghuni neraka, :
"Maka tidak ada yang mereka katakan ketika datangnya azab Kami kepada mereka , melainkan mereka berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalim' "(QS Al-Araf - 5). Bahkan Allah menyatakan "Sesungguhnya Allah sekali-kali menganiaya (seseorang) seberat zarrah (debu) .." (QS An-Nisa 40).
"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya manusia sedikitpun, akan tetapi manusia lah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS Yunus - 44)

Memang sulit. Kejahatan dan keburukan perbuatan si dia sungguh sulit untuk diterima. Kata-katanya juga menyebabkan kita menjadi semakin panas hati. Semakin dipikir, semakin kalut semerawut. Semakin dipikir semakin sakit hati. Akhirnya kita sendiri tidak bisa kerja atau tidur. Kalau berselisih pasti teringat, pasti harus menahan marah. Kalau terpandang pasti dendam kesumat bergelora.

Itulah keadaannya orang yang terganggu atau "Emotional hijack"(dibuai nafsu). Semuanya serba tak mengena. Semuanya salah. Ada saja yang tak berkenan.

Bagi orang yang egois atau orang yang telah kehilangan, mereka tidak nampak bahwa memaafkan itu satu pengorbanan yang perlu untuk menahan diri kita dari terus-terusan menzalimi diri sendiri.
Katakanlah pada diri sendiri, "Cukuplah Allah dalam hati ini. Cukuplah Allah sebagai pelindungku.Cukuplah Allah yang Maha Adil, yang tidak menzalimi aku. Cukuplah Allah yang Maha Mengetahui.Cukuplah Allah .. Cukuplah Allah .. Cukuplah Allah .. "bisikkanlah kalimat kalimat itu di dalam hati. Pasti dengan izinNya, hati kita akan kurang gelora.

Setelah itu, mohon ampunan dari Allah. Allah mengajarkan ".. Bahwa tidak ada Rabb melainkan Engkau! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang lalim. "(QS Al-Anbiya - 87).

Setelah itu, maafkanlah sidia. "Bagaimana cara memaafkan sidia sedangkan dia yang berbuat salah tidak meminta maaf?" Orang-orang yang berilmu dahulu, dia akan menghadap orang itu dan dia sendiri akan meminta maaf. Cari jalan agar orang itu meminta maaf. Cari jalan agar tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Cari peluang agar yang retak itu tersambung kembali.

Itulah salah satu pengorbanan hidup yang pasti akan datang ke kita.
Yang menuntut agar kita melaksanakannya.
Sebagaimana Allah selalu memaafkan kita.
Selalu berprasangka baik bahwa kita akan berubah suatu hari nanti.
Yang terus-menerus menunaikan janji walaupun kita ingkar, default atau durhaka.
Yang tetap memberikan yang terbaik kepada kita. Tetap menerima taubat hamba-Nya. Tetap menyayangi hamba-hambaNya.

Wallahu’alam bishowab

Selasa, 05 Oktober 2010

DETIK TERAKHIR

DETIK TERAKHIR

Kehidupan begitu melelahkan. Kesibukan demi kesibukan harus kita jalani setiap harinya. Kesedihan dan kesulitan acap kali datang mengunjungi. Memporak-porandakan hati hingga ada sebagian manusia yang putus asa. Memilih mati sebagai solusi terbaik.

Pernahkan kita mengingat kematian. Dan pernahkah kita membayangkan ketika n...afas kita tinggal satu-satunya. Satu nafas yang tercekat di tenggorokan. Nafas terakhir, sesudahnya kita akan meninggalkan dunia untuk selamanya. Apa yang akan kita lakukan?

Sebagian diantara kita mungkin mengingat orang-orang yang tercinta. Satu per satu wajah mereka bermain di pelupuk. Ayah, ibu, saudara, sahabat, teman bahkan kekasih. Mungkin sempat datang penyesalan, mengapa kita tak menjadi sosok yang terbaik untuk mereka. Mempersembahkan cinta terindah dan juga menyayangi mereka dengan kasih sayang. Namun saat itu sudah terlambat. Nafas kita tinggal satu-satunya. Tak ada lagi kesempatan.

Sebagian mungkin ada yang mengingat, harta dan kekayaan yang ditinggalkan. Saham, perusahaan rumah dan tanah. Kita merasa sangat takut kehilangan. Oh, waktunya untuk tersadar. Di sisa nafas terakhir, kita akhirnya paham. Kekayaan dan harta yang kita perjuangkan sepenuh tenaga. Ternyata tak satupun yang menjadi teman sejati. Semuanya tertinggal dan diperebutkan oleh orang-orang yang kita tinggalkan
Dan, akhirnya nafas terakhir itu berhembus. Tinggalah jasad kita menjadi kaku. Terbujur dan ditangisi oleh orang-orang yang mencintai kita. Mana kecongkakan itu. Mana kesombongan itu. Mana kehebatan itu, kepintaran, kekuatan dan kemampuan yang kita punya. Semuanya hilang... seiring punahnya nafas kehidupan.

Jasad yang membujur. Tak mampu lagi untuk melalakukan apapun. Tak lagi tersenyum. Tak lagi tersedu. Lalu kita berpisah dengan segala yang kita cintai. Diantar ke tempat terakhir. Tanah merah di tempat yang kesepian. Orang-orang yang mencintai kita tak akan bisa menemani. Pun segala yang kita perjuangkan, tak ada yang kita bawa serta. Kecuali, semua amalan kebaikan yang pernah kita lakukan
Sekarang, nafas itu masih berhembus dalam jasad kita. Berbenahlah. Jangan menunggu nafas terakhir agar kita mau memperbaiki diri. Bersyukurlah atas kesempatan dan kehidupan yang kita punya. Berikanlah hal terindah bagi orang-orang di sekeliling kita. Lakukanlah kebaikan, meski tak semua kebaikan itu kita langsung mendapat balasannya sekarang. Karena yakinlah, tak ada balasan bagi kebaikan melainkan kebaikan pula.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Minggu, 05 September 2010

SAHABAT

Seorang shadiq(sahabat),ialah seorang yg sungguh2 jujur terhadap sahabatnya dlm semua urusan hidupnya dan tidak berbasa-basi.Jika aku(misalnya)melihat suatu kesalahan pada diri sahabatku,maka aku harus menasihatinya dgn nasihat hakiki,dan tdk menyebabkannya tidak mau berkumpul lagi denganku,misalnya,dgn nasihat yg berbentuk caci-maki atau celaan.Tetapi haruslah dgn nasihat yg sungguh2,nasihat yang ia butuhkan.

Senin, 05 April 2010

HIDUP

HIDUP

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Allah Yang Maha Be...sar lagi Maha Kuasa, dan berdo’a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian.

Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq. Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo’a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo’a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya. Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat 'haqqul yaqin' (tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati).

Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH. Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain Golf, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Rabb-nya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia.

Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Wallahu ta'ala 'alam bishawab

Jumat, 05 Maret 2010

Amal

Amal apapun memerlukan kesungguhan dalam menunaikannya, termasuk kesungguhan berukhuwah. Dia bukanlah senyum formal ketika bertemu sesama, atau kalimat simpati bila sang saudara tertimpa musibah. Ia adalah Inisiatif, bukan menunggu, memberi bukan menuntut, tangan diatas dan bukan tangan dibawah.

Sabtu, 05 Desember 2009

DUNIA apa ITU DUNIA

DUNIA

Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kita menangis …
Tunjukkanlah bahwa Kita punya 1001 alasan untuk tersenyum.

...Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kita mengeluh …
Tunjukkanlah bahwa Kita punya 1001 alasan untuk bersyukur.

Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kita menyerah …
Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kita akan Berjaya, sebab
Ketika kerja kita tidak dihargai,
Maka saat itu Kita sedang belajar tentang KETULUSAN.

Ketika usaha kita dinilai tidak penting,
Maka saat itu Kita sedang belajar KEIKHLASAN.
Ketika hati kita terluka sangat dalam,
Maka saat itu Kita sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

Ketika Kita harus lelah dan kecewa,
Maka saat itu Kita sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika Kita merasa sepi dan sendiri,
Maka saat itu Kita sedang belajar KETANGGUHAN.

Ketika Kita harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu Kamu tanggung,
Maka saat itu Kita sedang belajar tentang KE-MURAH HATIAN

Dunia ini terlalu hina untuk membuat Kita menangis
… Terlalu murah untuk membuat Kita bersedih,

… Terlalu lemah untuk membuat Kita putus asa


Tersenyumlah …
Karena Kita mendapat kesempatan dan sedang menimba ilmu di Universitas Kehidupan......Lihat Selengkapnya

Senin, 05 Oktober 2009

Arti Sebuah Senyuman

Betapa berartinya senyum tulus dari orang-orang sekitar kita untuk membangun hari kita menjadi jauh lebih baik. Sebelum kita terlalu banyak berharap dari orang lain membangun kondisi itu, tentu akan lebih mudah bila kita sendiri yang memulainya dengan menarik 2 sudut bibir kita dengan senyum yang tulus kepada orang-orang terdekat dan ucapkan salam hangat dan sesuatu yang baik yang membuat mereka bahagia.

Selasa, 05 Mei 2009

Berfikit positif POSITIVE THINKING

POSITIVE THINKING

Assalamualaikum Warahmatullah, Saudaraku

Islam menganjurkan kepada umat manusia agar dapat bisa menikmati hidup ini dengan tentram, tenang, damai dan tanpa beban. Menikmati hidup dengan selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia dengan berseri-seri. Seperti itulah gambaran ideal orang yang bertaqwa..., merasa selalu dekat dengan Allah dimanapun mereka berada. Inilah implementasi dari ajaran Islam yang memang dirancang untuk selalu memudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Allah berfirman: “Kami tidak mengutusmu Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta” (QS Al-Anbiya 21:107)


Untuk mewujudkan hidup yang selalu tersenyum, ringan dan tanpa beban tersebut, maka Islam memberikan beberapa tuntunan, diantaranya yang utama adalah : Selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan) kepada siapapun, menjaga keseimbangan, juga dengan berpikir positif.

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan (berbaik sangka) dan berpikir positif? Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.

1. Pertama,

Kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang lain yang sering kita temui (dalam keluarga, kantor maupun dilingkungan masyarakat) seringkali tidak seburuk yang kita sangka.

Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa
Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut. Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.

“Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar”, tambah Nabi Khidhir lagi.

Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!! Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan yang bukan-bukan. (Al-Kahfi [18]: ayat 60-82).

Dalam kisah Qur’ani ini, poin penting yang dapat dipetik:

kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain, siapapun mereka. Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.

2. Kedua,

Berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan.

Kita dapat kisah teladan Rasulullah SAW, ketika seluruh kafilah-kafilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melempari wajah beliau dengan pasir,datanglah malaikat menemui Rasul:

“Wahai Muhammad, dengan perlakuan mereka ini sudah sepantasnya jika kamu berdo’a kepada Allah agar membinasakan mereka seperti do’a Nuh –`Alaihi As-Salam—atas kaumnya.”

Rasulullah segera mengangkat tangan beliau. Tetapi yang terucap dalam do’a beliau bukanlah do’a kutukan, melainkan permintaan maaf kepada Allah:

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka melakukan semua ini terhadapku hanya karena mereka tidaktahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu.”

Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an,

“Tanggapilah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab.” (QS Al-Fushilat 41:34)

3. Ketiga,

Berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian.

Hati yang tenteram adalah hati yang tidakmemendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain. Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah SAW yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera mengingatkan Aisyah,

“Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal.”

Subhanallah!!

Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi:

“Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah SWT.”

4. Keempat,

Berpikir positif bisa membuat hidup kita penuh dengan ridha, legowo, rela atas setiap kejadian, menerima apa adanya, karena Allah SWT seringkali menyiapkan rencana- rencana yang mengejutkan bagi setiap hamba-Nya.

Dikisahkan ada seorang remaja penjual tempe, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat subuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulannya patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum untung, bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah.

Remaja itupun sudah membayangkan betapa marahnya kedua orang tuanya mengetahui semua tempe yang mau dijual kepasar tidak membawa hasil, ternyata dugaan remaja tersebut benar, sang Ibupun otomatis marah-marah luar biasa. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tempe itu baru saja terkena musibah kecelakaan, sehingga seluruh penumpangnya terluka, bahkan dua diantaranya ada yang luka berat, dan harus opname di Rumah Sakit, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat adalah remaja yang pikulannya patah disawah tadi.

Subhanallah, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap musibah besar, dua jam kemudian patah pikulan adalah suatu rahmat Allah & keberuntungan luar biasa.

Wallahu'alam bishowab

Sabtu, 02 Mei 2009

Menghiasi Hati Dengan Menangis

 “Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Indahnya hidup dengan celupan iman. Saat itulah terasa bahwa dunia bukan segala-galanya. Ada yang jauh lebih besar dari yang ada di depan mata. Semuanya teramat kecil dibanding d...engan balasan dan siksa Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Menyadari bahwa dosa diri tak akan terpikul di pundak orang lain

Siapa pun kita, jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan akan terpikul di pundak orang lain. Siapa pun. Pemimpinkah, tokoh yang punya banyak pengikutkah, orang kayakah. Semua kebaikan dan keburukan akan kembali ke pelakunya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya dalam surah Al-An’am ayat 164. “…Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabb-mulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Lalu, pernahkah kita menghitung-hitung dosa yang telah kita lakukan. Seberapa banyak dan besar dosa-dosa itu. Jangan-jangan, hitungannya tak beda dengan jumlah nikmat Allah yang kita terima. Atau bahkan, jauh lebih banyak lagi.

Masihkah kita merasa aman dengan mutu diri seperti itu. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun mampu menjamin bahwa esok kita belum berpisah dengan dunia. Belumkah tersadar kalau tak seorang pun bisa yakin bahwa esok ia masih bisa beramal. Belumkah tersadar kalau kelak masing-masing kita sibuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Menyadari bahwa diri teramat hina di hadapan Yang Maha Agung

Di antara keindahan iman adalah anugerah pemahaman bahwa kita begitu hina di hadapan Allah swt. Saat itulah, seorang hamba menemukan jati diri yang sebenarnya. Ia datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Dan akan kembali dengan selembar kain putih. Itu pun karena jasa baik orang lain.

Apa yang kita dapatkan pun tak lebih dari anugerah Allah yang tersalur lewat lingkungan. Kita pandai karena orang tua menyekolah kita. Seperi itulah sunnatullah yang menjadi kelaziman bagi setiap orang tua. Kekayaan yang kita peroleh bisa berasal dari warisan orang tua atau karena berkah lingkungan yang lagi-lagi Allah titipkan buat kita. Kita begitu faqir di hadapan Allah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Seperti itulah Allah Allah Subhanahu Wa Ta'ala nyatakan dalam surah Faathir ayat 15 sampai 17, “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”

Menyadari bahwa surga tak akan termasuki hanya dengan amal yang sedikit

Mungkin, pernah terangan-angan dalam benak kita bahwa sudah menjadi kemestian kalau Allah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.. akan memasukkan kita kedalam surga. Pikiran itu mengalir lantaran merasa diri telah begitu banyak beramal. Siang malam, tak henti-hentinya kita menunaikan ibadah. “Pasti, pasti saya akan masuk surga,” begitulah keyakinan diri itu muncul karena melihat amal diri sudah lebih dari cukup.

Namun, ketika perbandingan nilai dilayangkan jauh ke generasi sahabat Rasul, kita akan melihat pemandangan lain. Bahwa, para generasi sekaliber sahabat pun tidak pernah aman kalau mereka pasti masuk surga. Dan seperti itulah dasar pijakan mereka ketika ada order-order baru yang diperintahkan Rasulullah.

Begitulah ketika turun perintah hijrah. Mereka menatap segala bayang-bayang suram soal sanak keluarga yang ditinggal, harta yang pasti akan disita, dengan satu harapan: Allah pasti akan memberikan balasan yang terbaik. Dan itu adalah pilihan yang tak boleh disia-siakan. Begitu pun ketika secara tidak disengaja, Allah mempertemukan mereka dengan pasukan yang tiga kali lebih banyak dalam daerah yang bernama Badar. Dan taruhan saat itu bukan hal sepele: nyawa. Lagi-lagi, semua itu mereka tempuh demi menyongsong investasi besar, meraih surga.

Begitulah Allah menggambarkan mereka dalam surah Al-Baqarah ayat 214. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Menyadari bahwa adzab Allah teramat pedih

Apa yang bisa kita bayangkan ketika suatu ketika semua manusia berkumpul dalam tempat luas yang tak seorang pun punya hak istimewa kecuali dengan izin Allah. Jangankan hak istimewa, pakaian pun tak ada. Yang jelas dalam benak manusia saat itu cuma pada dua pilihan: surga atau neraka. Di dua tempat itulah pilihan akhir nasib seorang anak manusia.

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. 80: 34-37)

Mulailah bayang-bayang pedihnya siksa neraka tergambar jelas. Kematian di dunia cuma sekali. Sementara, di neraka orang tidak pernah mati. Selamanya merasakan pedihnya siksa. Terus, dan selamanya.

Seperti apa siksa neraka, Rasulullah saw. pernah menggambarkan sebuah contoh siksa yang paling ringan. “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Belum saatnyakah kita menangis di hadapan Allah. Atau jangan-jangan, hati kita sudah teramat keras untuk tersentuh dengan kekuasaan Allah yang teramat jelas di hadapan kita. Imam Ghazali pernah memberi nasihat, jika seorang hamba Allah tidak lagi mudah menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, justru menangislah karena ketidakmampuan itu.

Wallahu Ta'ala 'Alam bishowab..Lihat Selengkapnya

Jumat, 05 Desember 2008

KETIKA HATI DIPENUHI AMARAH

Marah sebenarnya merupakan atribut seorang insan yang manusiawi. Jadi setiap orang sudah mempunyai potensi untuk marah, dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa kita tolak.

...Yang dipermasalahkan di sini adalah sikap mudah meluapkan amarah, dengan kata lain kemarahan yang kronis. Biasanya tipe marah kronis ini terbentuk dari sikap bermusuhan yang terus menerus yang akhirnya memunculkan kecenderungan melontarkan komentar pedas dan celaan. Selain itu hal ini juga bisa timbul karena ketersinggungan dan akhirnya amarahpun meluap dan akan dilontarkan kepada siapa saja yang ditemuinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, “Berilah aku wasiat!”. Maka Nabi pun bersabda “Janganlah engkau mudah marah!” Maka diulangnya permintaan itu beberapa kali, dan beliaupun bersabda, “Janganlah engkau mudah marah!”

Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah “Janganlah engkau mudah marah!” dalam hadits tersebut adalah “Janganlah kamu mudah meluapkan amarah!” yaitu mudah meluapkan amarah kepada siapapun dan dimanapun, karena hal ini bisa berakibat buruk bagi diri kita sendiri. Jika orang yang kita jadikan sasaran atas kemarahan kita tersebut tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada diri kita, bisa jadi dia akan berpikir yang negatif terhadap kita.

Menahan amarah merupakan salah satu dasar pokok bidang akhlak dalam agama Islam. Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawany menerangkan, “Adab-adab kebaikan terhimpun dan bersumber dari 4 hadits: yaitu hadits“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata baik atau diam”, hadits “Salah satu pertanda kebaikan Islam seseorang, jika ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfat baginya”, hadits“Janganlah engkau marah”, dan hadits “Seorang mu’min mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai kebaikan tersebut bagi dirinya sendiri”.

Kebiasaan mudah marah ini juga akan memiliki pengaruh yang buruk terhadap kesehatan seseorang. Sebuah penelitian di Stanford University Medical School pada pasien-pasien penyakit jantung memberikan data yang sangat mengejutkan. Ketika pasien-pasien itu diminta untuk menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang dapat memicu amarah mereka, maka efisiensi pemompaan jantung turun hingga 5-7 % lebih. Hal ini merupakan suatu rentang yang oleh para ahli kardiologi dianggap sebagai tanda iskimia miokordial (yaitu penurunan aliran darah yang bisa membahayakan jantung).

Hasil serupa juga ditemukan pada studi di Yale School of Medicine terhadap 929 pria yang pernah mengalami serangan jantung. Kelompok pria yang mudah marah terbukti punya resiko meninggal karena serangan jantung lebih dari tiga kali lipat daripada kaum pria yang perangainya lebih tenang. Mungkin inilah hikmah dari hadits Abu Hurairah di atas, ketika Rasulullah memerintahkan kita agar jangan mudah marah.

Menahan diri agar tidak mudah marah juga merupakan perbuatan terpuji dan mempunyai keutamaan tersendiri. Dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Bukanlah dikatakan orang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya diwaktu marah.” (Riwayat Bukhary dan Muslim)
Orang yang mampu menahan hawa nafsunya tidak hanya diberi label sebagai orang yang kuat, namun ia juga mendapatkan jaminan surga.

Suatu ketika pernah ada seseorang yang manghadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang dapat mendekatkanku menuju surga dan menjauhkan diriku dari neraka!”. Beliau kemudian bersabda, “Jangan marah, maka engkau berhak mendapatkan surga.” (Shahih, Riwayat Thabrany)

Bagaimana dengan kita wahai saudaraku? Marah bukanlah cara yang terbaik untuk kita menyelesaikan suatu masalah. Hadapilah setiap masalah tersebut dengan bijak dan pikiran yang jernih.

Marilah kita senantiasa berusaha untuk bisa menahan amarah kita, bukan hanya agar jantung kita menjadi sehat, akan tetapi haruslah kita niatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata agar bermanfaat sebagai tabungan amal untuk akhirat kelak. Selain itu, orang yang penuh dengan kesabaran juga akan lebih dicintai oleh orang lain.

Ya Allah...
Aku memohon kepadamu dengan wasilah,
Bahwa aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah,
Yang tiada Rabb selain Engkau,
Yang Maha Esa,
Tempat semua manusia meminta,
Yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan,
Dan tiada seorangpun yang menyamai-Nya.

Ya Allah...
Dengan kekuasaan-Mu aku memasuki pagi,
Dengan kekuasaan-Mu aku memasuki petang,
Dengan kekuasaan-Mu aku hidup,
Dengan kekuasaan-Mu aku mati,
Dan kepada-Mu lah tempatku kembali.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh....

Kamis, 04 September 2008

ISTRI YANG DIUJI

ISTRI YANG DIUJI
[Untuk Saudariku R di suatu tempat]


Hidup adalah kesinambungan ujian yang berkelanjutan. Setiap kita diuji. Jangan mengira hanya kita saja yang diuji, tetapi semua manusia dengan caranya masing-masing. Tetapi biasalah, kita hanya melihat pelangi yang ada di atas kepala orang lain. Maksudnya, kita sering merasakan, hidup... orang lain lebih indah, lebih bahagia ... hanya kita yang menderita. Pada hal, setiap kita diuji, pada titik kelemahan masing masing. Dan inilah cerita ... istri yang diuji.

Bagaimana aku di mata suami ku? Apakah aku ini masih dicintainya? Atau aku masih diterima sebagai istri hanya karena sudah tidak ada pilihan dan jalan yang lain lagi ... Lalu pernikahan yang tidak bahagia ini, walau sengsara sekalipun harus diteruskan. Nanti apa kata sanak saudara? Apa pula anggapan teman-teman? Dan yang paling penting, bagaimana pula nasib anak-anak kalau aku bercerai nanti.

Lalu dikayuh jugalah bahtera pernikahan yang diumpamakan sudah hilang angin itu. Meskipun layarnya sudah terkoyak. Alhasil, rumah tangga terumbang-ambing. Ke depan tidak, ke belakang pun tidak. Jemu. Beku! Ah, apakah benar pernikahan itu bagai kuburan percintaan?

Jika rasa-rasa seperti di atas telah dirasakan oleh istri, maka memang benar pada saat itu memang benar pernikahan itu kuburan percintaan.Bukan saja kuburan, bahkan ia sudah menjadi neraka. Pada saat itulah harga diri istri berada di tingkat yang paling rendah. Dia seolah-olah tidak ada harga diri lagi. Keyakinannya sudah terkikis, harapannya sudah menipis. Seperti apa harga diri? Martabat? Status?

Secara mudah harga diri ditafsirkan sebagai penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri pada kemampuannya untuk berhasil atau bahagia dalam hidup. Pendek kata, jika seseorang ingin bahagia dia harus memiliki harga diri yang tinggi. Dia harus merasa layak, mampu dan kompeten untuk berhasil. Dia 'feel good' dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan mereka yang memiliki harga diri yang rendah. Mereka akan selalu merasa lemah, tidak yakin dan ragu-ragu pada kemampuan diri sendiri untuk bahagia.

Tanda istri yang hilang harga diri begitu signifikan. Terkadang jadi pemurung. Banyak memencilkan diri. Atau ada pula yang mudah marah-marah. Terlalu sensitif. Hilang semangat untuk membersihkan diri apalagi berhias atau merawat rumah. Tidak ada apa lagi yang ingin 'diperjuangkannya' atau yang akan menggembirakan atau yang menyedihkannya. Dia seperti orang mati - hilang semangat untuk hidup.

Inilah akibatnya bila seseorang lebih mementingkan pandangan suaminya terhadap diri mereka daripada pandangan diri sendiri. Apa penilaian suamiku? Apakah dia masih cinta atau telah jemu? Hidupnya dihantui prasangka.Dan prasangka itulah yang menghilangkan keceriaan dan semangatnya.

Ironisnya, lama-kelamaan perasaan rendah diri yang mulanya pasif itu akan berubah menjadi agresif. Menurut psikolog banyak orang yang pada mulanya memiliki harga diri yang rendah, akan memandang rendah kepada orang lain. Ah, suami ku juga apa kurangnya. Dia pun tidak hebat hebat amat.Ya, orang yang tidak punya harga diri tidak akan dapat menghargai orang lain sebagaimana orang yang tidak punya uang, mustahil bisa memberikannya kepada orang lain

Hakikatnya penilaian diri terhadap diri sendiri jauh lebih penting dari penilaian orang lain terhadap diri kita. Maksudnya, biar dipandang rendah di mata suami, tetapi jangan dipandang rendah di mata sendiri. Sayangnya, dalam pernikahan yang tidak bahagia banyak istri atau suami yang merasa harga diri mereka direndahkan oleh pasangannya.



Dalam sebuah rumah tangga, harga diri sangat penting apakah pada suami maupun isteri. Suami terutama tidak bisa memandang rendah pada dirinya sendiri. Rasakanlah yang diri kita bisa dan mampu untuk memimpin, melindungi dan menghidupi keluarga. Bila harga diri suami tinggi maka barulah barulah dia akan mampu menghargai istrinya. Awas, jika kita sering sombong, meremeh-temehkan bahkan menghina pasangan kita itu menunjukkan harga diri kita yang rendah!

Para istri tidak dapat membandingkan diri kita dengan orang lain secara tidak sehat. Konon, istri orang lain lebih bijak, kaya dan lebih beruntung dari kita. Dia lupa bahwa setiap kita memiliki kelebihan tersendiri. Kita adalah unik, dan dunia tidak akan lengkap tanpa kehadiran kita. Kita dibuat untuk berhasil dan bahagia.

Maha Suci Allah, yang sekali-kali menciptakan hamba-Nya untuk gagal dan menderita. Allah menciptakan kita untuk berhasil dan bahagia. Sebab itulah diturunkan untuk kita Rasulullah saw dengan Al Quran dan sunahnya. Dan kepada setiap individu diberikan berbagai keistimewaan tersendiri.

Soalnya, apakah kita telah membangunkan segala keistimewaan itu secara optimal? Sejauh mana segala kelebihan yang Allah berikan kepada kita telah kita kenali, kita raba dan dipergunakan? Isteri yang diuji harus mencari kembali kekuatannya. Di mana keunikan aku? Aku istimewa, aku unik, bisikkan begitu pada diri.

Siti Saudah isteri Rasulullah S.A.W. mungkin tidak secantik dan sebijak Humairah (Siti Aisyah R.A), tetapi dia tidak rendah diri, dia tidak hilang harga diri ... Lalu dia rajin bangun malam (berqiamullail) dan dikorbankan giliran mala-nya bersama Rasulullah untuk Siti Aisyah demi menyenangkan hati Rasulullah karena mengharap ridha Allah. Lihat, dia tidak merintih, mengeluh dan mengeluh nasib diri. Sebaliknya, dia tahu harga dirinya di mana!

Saudariku,

Jadilah diri kita sendiri, sayangi diri itu dengan membangun satu keyakinan bahwa Allah Maha Adil, dengan memberikan bakat dan kemampuan untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup berbekalkan segala kelebihan yang kita miliki. Jangan rusak seluruh kehidupan hanya merasa tidak dihargai oleh suami. Hidup terlalu singkat dan sangat berharga untuk 'dikorbankan' hanya oleh prasangka dan curiga. Bahkan jika benar sekalipun kita dirugikan oleh suami, ingatlah suami bukan segalanya.

Bangun, dan buatkanlah harga diri kembali. InsyaAllah, bila kita mulai menghargai diri sendiri barulah orang lain akan menghargai diri kita. Kita adalah unik justru tidak ada siapa yang serupa dengan kita bisa terjadi secara eksternal maupun internal. Cara yang terbaik untuk membanding adalah bandinglah diri kita sekarang dengan potensi kita yang sebenarnya.

Ubahlah diri ke arah yang lebih baik, insya-Allah kita akan lihat suami, anak-anak dan seluruh isi rumah kita akan berubah. Dan perubahan itu dapat terjadi dua cara. Pertama, memang suami, anak-anak dan rumah tangga kita berubah menjadi lebih baik seperti yang kita harapkan. Kedua, kita yang berubah lalu mampu melihat, menafsirkan dan bertindak terhadap suami, anak-anak dan rumah tangga yang masih sama dan 'gitu-gitu' saja tetapi dengan perspektif yang berbeda.

Apa yang dulunya kita lihat sebagai derita sudah berubah bahagia karena hidayah yang Allah jatuhkan ke dalam hati kita telah memberi makna yang berbeda. Dunia tidak berubah, tetapi mata hati kita yang berubah lalu yang kita lihat hanya yang indah-indahnya saja. Alangkah bahagianya punya hati yang begitu ... bila pahit dirasakan obat, bila manis dirasakan halwa, bila asam dianggap ulam. Itulah hati yang mampu dan disediakan untuk setiap istri dan Anda layak untuk memilikinya!
Kita tidak perlu menyaingi suami untuk mendapatkan keyakinan diri. Dia tetap dia dan kita tetap kita. Jangan menunggu suami menghargai diri kita, barulah kita merasa diri kita berharga ... sebaliknya hargailah diri kita terlebih dahulu barulah suami akan menghargai kita. Merendah diri di hadapan suami, bukan berarti mengorbankan harga diri kita sebagai insan yang sempurna ciptaan Allah.

Ingatlah kata-kata ini: Jangan khawatir jika diri tidak dihargai tetapi bimbanglah jika diri memang tidak berharga. Teruslah menjalankan tanggung jawab keluarga dengan baik. Jangan sekali-kali 'sakit jiwa' karena tidak dihargai justru di dalam diri kita sudah ada keyakinan bahwa diri kita memang berharga!

--------------------------------------
MADAH SUMAYAH

Suamiku
Bunga semalam telah layu
Gugur dari jambangannya
Mujur ...Cinta kita
Bukan itu lambangnya

Mulutku telah kaku merayu
Hatiku malu untuk terus cemburu
Tidak seperti dulu ...
Karena kini kau seorang mujahid
Yang rindu memburu syahid!

Maaf jika tutur dan tingkahku
Senyum dan seri wajahku
Pudar dan hambar di matamu
Padaku yang baru belajar
... menjadi seorang mujahidah

Aku kini hanya mendoakan
Agar kau menjadi Yassir
Walau kiranya ...
Bukan aku sebagai Sumayyahmu!

Dalam tangis kucoba tersenyum
Ketika kau keluar bermusafir
Seperti redhaNya Siti hajar
Waktu ditinggalkan Ibrahim

Biarlah kita berpisah
dan aku selalu menderita
karena surga menagih ujian berat
Sedang neraka itu ...
Dipagar ribuan nikmat!

------------------------------------

Wallahu Ta’ala ‘Alam bishowab

Senin, 04 Agustus 2008

Apa Itu Maaf?

Maaf adalah kata kunci untuk membuka pintu dendam dan belenggu kebencian. Maaf mengandung sebuah kekuatan yang sanggup mematahkan rantai kepahitan dan keterikatan pada sifat mementingkan diri...“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raaf: 199).

Jumat, 04 Juli 2008

PRASANGKA

PRASANGKA

Aku dilukai dan dikecewakan seorang kawan,
dan menemukan diriku marah berkepanjangan,
Aku merusak semangatku
...karena orang lain.

Aku tidak mewujudkan mimpiku dengan seketika,
kemudian berhenti berusaha.
Aku merusak semangatku
karena Ketidaksabaran.

Aku merasakan turunnya hujan di pintu musim kemarauku,
dan mengeluh semuanya itu tidak cukup.
Aku merusak semangatku
karena cuaca.

Aku memperhatikan hal-hal yang kumiliki
dan menyebut semuanya itu tidak cukup.
Aku merusak semangatku
karena Rasa Kekurangan.

Aku berlari tergesa-gesa
dan kehilangan rasa damaiku.
Aku merusak semangatku
karena Waktu dan Tindakan.

Aku melihat tantangan sebagai masalah,
dan takut terhadap hal buruk yang akan terjadi.
Aku merusak semangatku
karena Kecemasan.

----------------------

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan). [QS Yunus, 10: 36]

Dalam kajian etika (Islam), prasangka dibedakan dalam dua jenis. Prasangka yang mendatangkan dosa dan prasangka yang tidak mendatangkan dosa. Yang pertama dilakukan oleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan. Yang kedua dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati. Yang pertama berimplikasi dosa, sedangkan yang kedua – pada dasarnya – “tidak”. Namun bila dibiarkan dan tidak dikendalikan dengan tepat, prasangka yang kedua pun bisa menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka yang pertama. Prasangka yang yang terucap pada mulanya terjadi karena prasangka dalam hati. Dan oleh karenanya, orang-orang bijak menasihati, keduanya harus dihindari.
Orang boleh berdalih: “Tidak setiap prasangka itu bermakna negatif. Semua berpulang pada niat manusianya”. Tetapi harus diingat, bahwa setiap niat bisa berubah selaras dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Banyak orang yang semula berniat baik, namun seiring dengan perubahan situasi dan kondisi, tiba-tiba semuanya menjadi serba berubah. Setiap manusia tidak bisa memperkirakan secara tepat, kapan niat itu tiba-tiba bisa berubah, karena mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mungkin perubahan-perubahan situasi dan kondisi yang sangat cepat, memaksa dirinya untuk mengubah niat, atau dengan tanpa sengaja berubah niat. Itulah panggung kehidupan, yang memang tidak pernah menentu, Kata orang sebgian bijak: ”tidak ada rumus matematis yang serba-pasti bagi kehidupan ini, termasuk di dalamnya kehidupan manusia ketika dirinya harus berhadapan dengan realitas yang selalu berubah”.

Ketika kita semua hidup dalam dunia prasangka, maka sangat muingkin segalanya menjadi serba tidak nyaman. Hidup ini serasa penuh beban, dan dalam banyak hal sulit untuk dinikmati. Kita semakin akan mudah untuk saling-curiga dengan siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Sebut saja, ketika ada seseorang atau sekelompok orang tiba-tiba “ada” di hadapan kita dengan pandangan penuh senyum dan tawa, tiba-tiba kita pun menerka: “ada apa dengan senyum dan tawa itu”. Jangan-jangan orang itu sedang menertawakan diri kita. Lalu kita pasang kuda-kuda untuk menghadapinya dengan sikap “siap-perang”. Begitu juga, ketika ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang datang tiba-tiba dengan muka masam dan kusut, kita pun punya sikap yang – kurang lebih – sama: “siap-perang”. Pendek kata, apa pun yang kita temukan pada setiap orang dalam setiap ruang dan waktu, akan kita sikapi dengan langkah awal: “negative-thinking”. Seolah-olah tidak ada ruang lagi di relung hati kita untuk berpikir positif pada siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Melawan prasangka, bagi setiap pecinta kebenaran bukanlah hal yang sulit. Menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup bukanlah hal yang aneh. “Merupakan sebuah keharusan abadi”. Dan oleh karenanya, setiap muslim sudah semestinya (bisa) menghindar terhadap semua “prasangka”, dan apalagi “berprasangka“. Dengan kata lain: “tidak dibenarkan berprasangka buruk kepada orang lain, dan biarkan semua orang berprasangka terhadap dirinya ketika dia harus memilih untuk menjadi yang benar“.

Agama kita, “Islam”, hanya membolehkan berprasangka dalam rangka berhati-hati terhadap semua informasi yang disampaikan orang fasik agar tidak terkecoh oleh bualan mereka. Dan selebihnya: kita harus menyatakan ‘tidak” untuk semua prasangka. Demi kemashalatan kita bersama “here and here-after” (fid dunya wal âkhirah).

Wallahu Ta’ala ‘Alam bishowab

Rabu, 04 Juni 2008

Wanita Adalah Mutiara Yang Terpelihara

WANITA...MUTIARA YANG TERPELIHARA..
[Untuk anakku R]

Salam..
Untukmu yang bergelar muslimah..
Allah menghalalkan kepadamu memperhias diri dengan perhiasan dari emas & sutera yang Dia haramkan bagi kaum lelaki. Rasulullah SAW bersabda: " Kedua- dua perhiasan ini (emas & sutera) diharamkan bagi lelaki dan dihalalkan bagi wanita ". (HR. Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib). Ia halalkan semua ini untukmu demi menjaga kecantikanmu dan sesuai dengan sifatmu yang lembut.

Sebaliknya Allah mengharamkan segala sesuatu yang dapat menghilangkan sifat kewanitaanmu yang halus dan lembut itu baik dari segi berpakaian, bertingkah dan perilaku yang menyerupai lelaki, demikian juga lelaki diharamkan menyerupai wanita dalam berpakaian, gerak dan tingkah laku, kerana hal itu tidak sesuai dengan jiwa dan tabiatnya. Rasulullah SAW bersabda: " Allah melaknat lelaki yang memakai pakaian wanita dan wanita memakai pakaian lelaki ". (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah ra.)

Allah melindungi kelemahanmu dan menempatkanmu selalu dalam naungan lelaki, Dia tidak menuntut kamu mencari penghidupan untuk memenuhi keperluanmu atau keperluan orang lain, tetapi kaum lelakilah yang diwajibkan memenuhi segala keperluan hidupmu, kerana Dia tidak mahu engkau susah dalam kehidupan demi sesuap nasi agar engkau tidak terhina.
Jika engkau seorang gadis, ayah dan saudara lelaki lah yang wajib memenuhi keperluanmu, jika kau seorang ibu, anak lelakilah yang dituntut menjamin keperluan hidupmu, dan jika engkau seorang isteri, suami mu lah yang harus bertanggungjawab untuk kesemua keperluanmu, lalu jika tidak ada seorang antara mereka yang menjamin keperluan hidupmu maka Allah mewajibkan kepada pemerintah untuk memenuhi semua keperluan hidupmu yang asasi.

Allah memerintahkan kepadamu menjaga pandanganmu terhadap kaum Adam agar syaitan tidak menjerumuskanmu ke dalam lembah yang hina. Allah berfirman: " Katakanlah kepada wanita yang beriman: " Hendaklah mereka menahan pandangan mereka..."

Allah memerintahkan kepadamu menjaga tubuhmu daripada tangan- tangan jahil dan penghinaan mata- mata yang jahat dengan membalutnya menggunakan pakaian mulia kecuali muka & telapak tanganmu. Allah berfirman: "....dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari mereka, dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka..."

Allah memerintahkan kepadamu tidak menampakkan perhiasanmu yang tersembunyi seperti rambut, leher, betis, dan lengan tanganmu kecuali kepada suamimu, dan orang2 yang termasuk mahram bagimu. Allah berfirman dan ertinya: "...dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera2 mereka, atau putera2 suami mereka, atau saudara2 mereka, atau putera2 saudara laki2 mereka, atau putera2 saudara perempuan mereka, atau wanita2 Islam, atau kanak2 yang mereka miliki atau pelayan2 lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak yang belum mengerti tentang aurat wanita..."

Allah memerintahkan kepadamu berjalan dengan santai dan berbicara dengan nada rendah sehingga engkau nampak berwibawa dan terhormat. Allah berfirman: " ....dan janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki mereka agar tidak diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan..."
"....maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya..."

Allah memerintahkan kamu menghindari segala sesuatu yang dapat menarik perhatian kaum lelaki kepada dirimu dan tergoda dengan penampilanmu dengan mengikuti perilaku kaum jahiliyah pertama atau kaum jahiliyah abad ini.
Rasulullah SAW bersabda: " Wanita yang memakai wangian lalu keluar dari rumahnya agar orang2 mencium aromanya adalah penzina ". (HR. Abu Daud)

Anakku R,

Sebagai wanita, kesalahan dan masa lalu mu tidak sebaiknya diungkit seperti mana yang telah disabdakan oleh RAsulullah. Jika diungkit setelah kamu berubah, maka berdosa lah si pengungkit itu dan bertambahlah pula pahala buatmu. Katanya lagi..." Ya'fullahu 'amman tolabal 'afwaminhu "..jadi, perbaiki kehidupan baru dengan menoleh sejenak pada sejarah agar tidak terulang perkara yg sama. Tidak ada seorang manusia pun yang sempurna, terlepas dari kesilapan, noda dan dosa, tidak ada seorang pun yang berhak merendahkan orang lain, menilai org lain, menjatuhkan maruah orang lain dan membuka aib orang lain karena...tiada seorang manusia pun yang sempurna..masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan...katanya..apa yang penting..." sana'ishu fil aakhirati 'ishatan abadiyyah "., katanya lagi..dalam pemikiran wanita ada kekurangan,tetapi dalam hati mereka ada kelebihan..katanya lagi..lelaki yg sengaja merendahkan kaum wanita merupakan lelaki yang paling rendah martabatnya karena lelaki seharusnya membimbing dan menunjukkan kewibawaan dan kepimpinan yang berlaku sebagai seorang pemimpin..katanya lagi.ikuti lah landasan syariat,menasihati siapa saja, saling tegur-menegur dan membimbing antara satu sama lain merupakan sesuatu yang penting demi menjaga keharmonisan..katanya lagi..air yang keruh jangan terus dibuang... ambil,dan jernihkan ia seperti semula..

Wallahu'alam bishowab

Minggu, 04 Mei 2008

Buah Kejernihan Qolbu

MUTIARA TAUSYIAH 1 Buah Kejernihan Qolbu Seorang sholeh pernah berkata: “Barang siapa yang mengisi lahirnya dengan mengikuti sunah, mengisi bathinnya dengan selalu bermuroqobah (selalu berdekatan dengan Alloh), menjaga pandangannya dari hal-hal yang diha...ramkan, menjaga dirinya dari syubhat dan hanya memakan makanan yang halal, maka firasatnya tidak pernah keliru, itulah buah dari kejernihan qolbu.” Muhammad bin Hasan ‘Ali At-Tirmidzi menjelaskan:”Hati bagaikan raja sementara anggota tubuh ibarat budak. Masing-masing anggota tubuh mungkin saja mengerjakan berbagai urusan, namun tetap dengan kehendak hati. Hati itu sendiri bergerak sesuai dengan kehendak Alloh. Tidak ada seorang pun yang bisa menjenguk hati orang lain. Alloh berhak untuk menghilangkan atau menanamkan apa saja yang Dia kehendaki dalam hati seseorang. Bila dihati ada cahaya atau sinar tauhid, atau nilai-nilai ketaatan kepada-Nya, semua itu juga berasal dari Alloh. Hati-hatilah yang memikirkan semua itu, dan dari hati juga muncul berbagai persoalan. Namun sangat disayangkan, disisi lain hati manusia adalah bagian dari Milik-Nya yang paling mudah berubah-ubah dan bergonta-ganti haluan.” Nabi bersabda: “Hati manusia itu lebih mudah berbolak-balik, dibandingkan dengan panci yang berisi air penuh mendidih.” (H.R.Ahmad dan Hakim) Nabi bersabda: “Hati disebut Qolb (yang berbolak-balik), karena kondisinya memang suka berbolak-balik. Perumpamaan hati itu seperti sehelai bulu yang menancap di akar pohon, ia akan berbolak-balik tak karuan digerakan oleh angin.” (H.R.Ahmad). ==Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun== Assalaamu’alaykum... Kaifa halukum..?? (=bagaimana kabar kalian semua..??) Suasana yang indah disore yang cerah.. Menentramkan Bathin yang sedang marah.. Aroma wangi bunga ditaman yang sedang merekah.. Simpulkan sedikit keceriaan diwajah.. Wahai sahabat TERSENYUMLAH.... Sebelum antum tanya kabar ana. Ana kasih bocoran nih. Alhamdulillah kabar ana sehat wal’afiat. ^_^

Jumat, 04 April 2008

CINTA KARENA ALLAH

CINTA KARENA ALLAH
[Untuk Saudariku M]
Berbicara tentang cinta adalah berbicara tentang rasa suka, rasa tenang dan tenteram, rasa rindu dan pengharapan. Namun tidak jarang dalam hubungan dengan sesama, kita merasakan kekecewaan, kekesalan, bahkan kemarahan yang akan berakhir pada perselisihan dan perpecahan. Padahal, sejatinya cinta ber...sifat menguatkan, bukan menghancurkan, ia menyuburkan, bukan membunuh, ia menyembuhkan, bukan menyakiti, sehingga cinta haruslah membuat sang pencinta menjadi orang yang lebih bahagia, bersemangat dan produktif.

Ketika hubungan dua manusia tidak lagi memberikan kebahagiaan, dan tidak memberikan manfaat tidak hanya bagi keduanya, melainkan juga kepada lingkungan sekitarnya, maka perlu ditinjau kembali perasaan cinta yang melandasi keduanya. Cinta semacam itu adalah cinta yang sudah dikotori oleh hawa nafsu. Lalu bagaimanakah hakikat dari cinta sejati?

Cinta sejati adalah cinta yang dilandasi atas kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya. Sesungguhnya cinta sejati adalah fitrah yang diberikan Allah kepada orang-orang mukmin.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang."(QS. Maryam: 96).

Cinta sejati adalah cinta yang dibingkai oleh iman kepada Allah swt. Bahkan Rasulullah saw. telah berjanji kepada siapa saja yang mampu melaksanakan tiga perkara, ia pasti akan mereguk lezatnya iman. Rasulullah saw. bersabda:
Dari Anas bin Malik ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Seseorang tidak akan pernah mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah, sehingga ia dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, seorang mukmin tidak akan mencintai apapun dan siapapun apabila cinta itu membuatnya jauh dari kebenaran, membuatnya meninggalkan perintah Allah dan sunnah Rasul, atau bahkan membuatnya melakukan hal-hal yang dibenci Allah. Sebaliknya, cinta tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, bukan berdasarkan balasan yang kita terima dari orang yang kita cintai. Cinta sejati akan bertambah ketika iman orang yang kita cintai ikut bertambah.

Saudariku, M

Cinta sejati adalah cinta yang menyandarkan harapan terbesarnya hanya kepada Allah. Cinta seperti ini membebaskan manusia dari perasaan kecewa karena sungguh, tidak akan kembali pengharapan seorang makhluk kepada makhluk yang lain melainkan ia akan kembali berupa kekecewaan. Apalah yang bisa dilakukan seorang makhluk untuk memuaskan makhluk yang lain, sedangkan untuk memuaskan dirinya sendiri saja dia tidak bisa? Hanya kepada Allah lah berpulang semua pengharapan.

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan bahwa rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Seiring berjalannya waktu dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan, efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari empat tahun.

Karenanya, tanpa ikatan yang berdasar karena ketuhanan, rasa cinta itu bersifat sangat sementara. Mencinta dan dicinta karena Allah swt. lah yang bisa melanggengkan pasangan suami istri, yang bisa melangengkan cinta orang tua pada anaknya dan sebaliknya, yang tentu juga akan menguatkan cinta saudara seiman dan juga meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang telah dijanjikan Allah naungan pada hari kiamat, ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Amin.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim)

WALLAHU 'Alam Bishowab

Selasa, 04 Maret 2008

Diam adalah ibadah

Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Kita tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aib kita tertutupi.
 
Nasehat Dari Aby Copyright © 2010 Designed by Dwi Isnein Evian Syah.Own Blog