Kamis, 05 Februari 2009

RUMAH MENURUT AL QUR'AN

RUMAH MENURUT AL QUR'AN
Adalah fitrah setiap makhluk untuk membangun tempat tinggal yang dijadikan sebagai tempat beristirahat dan melindungi diri, walaupun dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda sesuai kemampuan dan kebutuhan setiap makhluk itu sendiri. Jika pada binatang tempat tinggal itu disebut sarang, maka manusia menyebutnya ...dengan istilah rumah. Al-Qur’an memperkenalkan dua istilah untuk menyebut tempat tinggal atau rumah. Pertama, disebut dengan 'bait' seperti yang terdapat dalam surat an-Nahl [16]: 68 yang artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”

'Bait' secara harfiyah berarti tempat bermalam. Rumah disebut 'bait' karena memang berfungsi bagi pemiliknya untuk tempat bermalam dan beristirahat dari kesibukan. Hal ini juga sama seperti yang dilakukan binatang, seumpama burung yang kembali ke sarangnya di sore hari untuk bermalam dan beristirahat. Di samping itu, rumah dalam bentuk 'bait' juga berfungsi melindungi pemiliknya dari berbagai gangguan luar, seperti panas, dingin, dan serangan makhluk lain. Seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 125 Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman……”

Sebutan lain yang diperkenalkan Allah swt untuk menyebut rumah adalah 'maskan'. Seperti yang terdapat dalam surat an-Naml [27]: 18 “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Dalam surat at-Taubah [9]: 72 Allah swt juga berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu'min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”

Kata 'maskan' berasal dari kata 'sakana/sakina' yang berarti tenang, tentram, dan bahagia. Oleh karena itu, rumah dalam pandangan al-Qur’an bukan hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tempat beristirhat atau tempat berlindung. Tetapi lebih jauh, rumah berfungsi sebagai tempat mencari ketenangan dan kebahagian batin. Di dalam rumah (maskan) inilah manusia membangun keluarga sakinah, yaitu tatanan keluarga yang membawa kebahagian dan ketenangan hati.

Jika rumah hanya dijadikan 'bait', maka tidak jarang rumah dirasakan seperti di neraka. Itulah yang digambarkan Tuhan dalam surat al-Ankabut [29]: 41 : “…Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah (rapuh) adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Rumah laba-laba bukan hanya rapuh secara struktur, karena tidak mampu melindungi penghuninya dari segala macam gangguan luar seperti panas, dingin dan sebagainya. Namun, rumah laba-laba juga rapuh dari sisi penghuninya. Hasil penelitian membuktikan, bahwa laba-laba betina setelah melakukan perkawinan langsung membunuh laba-laba jantan. Begitu juga anak laba-laba, berjumlah sangat banyak namun diletakan dalam wadah yang kecil dan sempit, sehingga seluruh anaknya terlibat saling injak dan saling tindas, yang menyebabkan lebih separuh anaknya mati karena pertarungan sesamanya. Begitulah perumpamaan rumah yang rapuh, jauh dari kebahagian dan ketenangan.

Oleh karena itu, jadikanlah rumah kita sebagai 'maskan', tempat menemukan ketenangan dan kebahagian hidup. Janganlah jadikan rumah sekedar tempat singgah, tempat bermalam atau tempat berlindung saja (bait), seperti yang dilakukan oleh binatang. Rumah bagus tentu sangat perlu sebagai sarana memperoleh kebahagiaan hidup, akan tetapi bagus jika tidak membawa ketenangan dan kebahagiaan juga tidak baik. Biarlah tinggal di rumah yang sederhana, namun bisa memperoleh ketenangan dan kebahagiaan padanya. Sehingga, rumah betul-betul menjadi maskan. Salah satu cara menjadikan rumah sebagai tempat memperoleh ketenangan, atau menjadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan, adalah seperti yang diajarkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya : “Perbanyaklah membaca al-Qur’an di rumah kamu, sebab rumah yang tidak pernah dibaca al-Qur’an padanya sangat sedikit kebaikan rumah itu, sangat banyak kejahatannya, dan membuat penghuninya merasa sempit.”

Wallahu Ta'ala 'Alam bishowab

Senin, 05 Januari 2009

Merawat Hati

Untuk merawat hati yang sudah bercahaya dan memperindahnya maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu ini, dengki, riya, takabbur dan cobaan dijalani dengan ikhlas. Perumpamaan hal ini adalah seorang ib...u hamil yang selalu ikhlas menahan sakit, lemah tanpa pamrih demi mengandung anak yang ia cintai. Maka jika kita mencintai permata (hati kita) maka kita harus merawatnya terus-menerus.

Al-Ghazali mendefenisikan hati manusia menjadi tiga bentuk, yaitu: hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. Hati yang sehat akan berfungsi optimal, mampu memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk. Hati mereka kenal betul dengan Allah, sifat, af'al, kasih sayang, janji, qudrah, sunnah dan kemulian-Nya.

Kondisi hati ini akan selalu bersyukur atas nikmat, sabar dan ridha akan taqdir dan cobaan yang diberikan-Nya. Hati yang mampu berma'rifat (mengenal Allah) ini adalah salah satu yang menjadikan manusia lebih ungul dari makhluk lainnya.

Dalam bab ini juga dibahas tentang Qalbun Salim (hati yang selamat) yakni hati yang istiqamah dan mampu menetapi kebaikan berbalik hanya pada kebaikan saja seperti yang disinggung Nabi SAW dalam do'anya yang bersabda; "Hai yang membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu dan taat pada-Mu'. Mengenai hal ini Allah juga berfirman: Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim) (QS. 26, as-Syura: 88-89).

Hati yang bening inilah yang mampu menjaga prilakunya, menahan pandangannya, menjaga lisan, perut dan mampu memilih pergaulan yang baik. Hati menjadi suci dan bening karena tidak ada tingkah laku yang mengotorinya, ingatnya selalu pada Allah, istiqamahnya terus-menerus tanpa henti, da'wahnya ikhlas tanpa pamrih dan seterusnya.

Mengenai pentingnya menjaga mata Nabi SAW bersabda: "Pandangan itu salah satu panah dari panah iblis yang berbisa. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut pada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang terasa sangat manis di dalam hati. (HR. al-hakim).

Mengenai menjaga lisan Nabi SAW bersabda: "Setiap ucapan bani adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan) dan zikrullah. (HR. Tirmidzi). Demikianlah seterusnya.

Hati adalah pusat kebaikan dan kejahatan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani untuk berbuat baik atau jahat. Oleh karena itu bersihkanlah ia, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang. bersinar dan bercahaya serta mudahnya berbalik terus dalam kebaikan dan taqwa.

Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah: Pertama, Mencari ilmu hati yakni ilmu yang bermanfaat untuk membersihkan hati, bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Kedua, Membersihkan hati dari sifat-sifat tercela (takhalli). Ketiga, mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji yang dimulai dari sifat zuhud (tidak berambisi dan mengejar kesenangan hawa nafsu di dunia saja) dan mujahadah atau bersungguh-sungguh menuju Allah dalam istilah al-Ghazali dan Keempat, Istiqamah dan berdo'a agar hati tetap bersih, bening, bercahaya dan hanya berbalik dalam dan untuk kebaikan saja.

Jumat, 05 Desember 2008

KETIKA HATI DIPENUHI AMARAH

Marah sebenarnya merupakan atribut seorang insan yang manusiawi. Jadi setiap orang sudah mempunyai potensi untuk marah, dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa kita tolak.

...Yang dipermasalahkan di sini adalah sikap mudah meluapkan amarah, dengan kata lain kemarahan yang kronis. Biasanya tipe marah kronis ini terbentuk dari sikap bermusuhan yang terus menerus yang akhirnya memunculkan kecenderungan melontarkan komentar pedas dan celaan. Selain itu hal ini juga bisa timbul karena ketersinggungan dan akhirnya amarahpun meluap dan akan dilontarkan kepada siapa saja yang ditemuinya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, “Berilah aku wasiat!”. Maka Nabi pun bersabda “Janganlah engkau mudah marah!” Maka diulangnya permintaan itu beberapa kali, dan beliaupun bersabda, “Janganlah engkau mudah marah!”

Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah “Janganlah engkau mudah marah!” dalam hadits tersebut adalah “Janganlah kamu mudah meluapkan amarah!” yaitu mudah meluapkan amarah kepada siapapun dan dimanapun, karena hal ini bisa berakibat buruk bagi diri kita sendiri. Jika orang yang kita jadikan sasaran atas kemarahan kita tersebut tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi pada diri kita, bisa jadi dia akan berpikir yang negatif terhadap kita.

Menahan amarah merupakan salah satu dasar pokok bidang akhlak dalam agama Islam. Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawany menerangkan, “Adab-adab kebaikan terhimpun dan bersumber dari 4 hadits: yaitu hadits“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata baik atau diam”, hadits “Salah satu pertanda kebaikan Islam seseorang, jika ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfat baginya”, hadits“Janganlah engkau marah”, dan hadits “Seorang mu’min mencintai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia mencintai kebaikan tersebut bagi dirinya sendiri”.

Kebiasaan mudah marah ini juga akan memiliki pengaruh yang buruk terhadap kesehatan seseorang. Sebuah penelitian di Stanford University Medical School pada pasien-pasien penyakit jantung memberikan data yang sangat mengejutkan. Ketika pasien-pasien itu diminta untuk menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang dapat memicu amarah mereka, maka efisiensi pemompaan jantung turun hingga 5-7 % lebih. Hal ini merupakan suatu rentang yang oleh para ahli kardiologi dianggap sebagai tanda iskimia miokordial (yaitu penurunan aliran darah yang bisa membahayakan jantung).

Hasil serupa juga ditemukan pada studi di Yale School of Medicine terhadap 929 pria yang pernah mengalami serangan jantung. Kelompok pria yang mudah marah terbukti punya resiko meninggal karena serangan jantung lebih dari tiga kali lipat daripada kaum pria yang perangainya lebih tenang. Mungkin inilah hikmah dari hadits Abu Hurairah di atas, ketika Rasulullah memerintahkan kita agar jangan mudah marah.

Menahan diri agar tidak mudah marah juga merupakan perbuatan terpuji dan mempunyai keutamaan tersendiri. Dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Bukanlah dikatakan orang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya diwaktu marah.” (Riwayat Bukhary dan Muslim)
Orang yang mampu menahan hawa nafsunya tidak hanya diberi label sebagai orang yang kuat, namun ia juga mendapatkan jaminan surga.

Suatu ketika pernah ada seseorang yang manghadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang dapat mendekatkanku menuju surga dan menjauhkan diriku dari neraka!”. Beliau kemudian bersabda, “Jangan marah, maka engkau berhak mendapatkan surga.” (Shahih, Riwayat Thabrany)

Bagaimana dengan kita wahai saudaraku? Marah bukanlah cara yang terbaik untuk kita menyelesaikan suatu masalah. Hadapilah setiap masalah tersebut dengan bijak dan pikiran yang jernih.

Marilah kita senantiasa berusaha untuk bisa menahan amarah kita, bukan hanya agar jantung kita menjadi sehat, akan tetapi haruslah kita niatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata agar bermanfaat sebagai tabungan amal untuk akhirat kelak. Selain itu, orang yang penuh dengan kesabaran juga akan lebih dicintai oleh orang lain.

Ya Allah...
Aku memohon kepadamu dengan wasilah,
Bahwa aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah,
Yang tiada Rabb selain Engkau,
Yang Maha Esa,
Tempat semua manusia meminta,
Yang tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan,
Dan tiada seorangpun yang menyamai-Nya.

Ya Allah...
Dengan kekuasaan-Mu aku memasuki pagi,
Dengan kekuasaan-Mu aku memasuki petang,
Dengan kekuasaan-Mu aku hidup,
Dengan kekuasaan-Mu aku mati,
Dan kepada-Mu lah tempatku kembali.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh....

Rabu, 05 November 2008

Bicaralah dengan bahasa hati

Bicaralah dgn bahasa hati,maka akan sampai kehati pula. Kesuksesan bkn se-mata2 betapa keras otot dan betapa tajam otak kita,namun juga betapa lembut hati kita dlm menjalani segala sesuatunya.Kita tak kan dpt menghentikan tangisan bayi hanya dgn merengkuhnya dlm lengan yg kuat.Atau,membujuknya dgn berbagai permen dan kata2 manis.Kita harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yg tenang jauh di dlm dada kita.
 
Nasehat Dari Aby Copyright © 2010 Designed by Dwi Isnein Evian Syah.Own Blog